Laman

Senin, 26 Desember 2011

Call Center dan Cek Pulsa Operator Indonesia

Call Center dan Cek Pulsa

Telkomsel
Call Center :
Halo : 111
Simpati dan AS : 116

Cek Pulsa :
Halo, Simpati AS :
Cek pulsa dan Pemakian berjalan : *888#
*untuk Halo harus ketik HC ON ke 333
Cek Pemakaian Terakhir : *887#
Cek bonus : *889#

email : cs@telkomsel.co.id

*******************************************************

Indosat
Call Center :
Mentari : 222
IM3 : 300 (free) / 100 (400/call)
Star One : 111

Cek Pulsa :
Mentari : *555#
IM3 : *388#
Star One : *555#

email : icare@indosat.com, customer_service@indosat.com

*******************************************************

XL
Call Center :
Bebas : 817 (350/call)
Jempol : 817 (350/call)
Xplor : 817 (free)

Cek Pulsa :
Bebas : *123#
Jempol : *123#
Xplor : *108# (cek limit)

email : customerservice@xl.co.id

*******************************************************

Axis
Call Center : 838
Cek Pulsa : *888#
Cek Pemakaian Terakhir : *887#
Cek bonus : *889#

email : cs@axisworld.co.id

*******************************************************

Three
Call Center : 123 dan 0896-4-4000-123 dari operator lainnya
Cek Pulsa : *111*1#

email : 3Care@three.co.id

*******************************************************

Flexy
Call Center : 147
Cek Pulsa : 999#

*******************************************************

Fren
Call Center : 888
Cek Pulsa : 999

*******************************************************

Esia
Call Center : *999
Cek Pulsa : *555#

Minggu, 18 Desember 2011

Peribahasa Penuh Makna

Peribahasa merupakan ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu, bidal, pepatah. Beberapa diantaranya merupakan perumpamaan yaitu perbandingan makna yang sangat jelas karena didahului perkataan “bak”, “laksana”, “bagai”, “umpama”, dan sebagainya. Kebanyakan peribahasa berisikan sindiran secara halus ataupun pepatah yang mengandung hikmah nasehat. Berikut ini adalah beberapa peribahasa beserta artinya.

(A)

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

Perilaku seorang anak, biasanya mencontoh dari orang tuanya.

Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam

Tidak enak makan dan minum, sebab arti sangat terganggu.

Adakah dari telaga yang jernih, mengalir air yang keruh?

Orang-orang yang baik biasanya mengeluarkan kata-kata yang baik juga.

Air susu dibalas dengan air tuba.

Suatu kebaikan ternyata dibalas suatu keburukan.

Ayam bertelur di atas padi kelaparan, itik berenang di air kehausan.

Orang yang tinggal di negeri yang kaya, kalau tidak pandai berusaha akan tetap melarat.

Ayam bertelur sebutir pecah kabarnya ke seluruh negeri, penyu bertelur beribu-ribu seorangpun tiada tahu.

Bila orang kecil mendapat untung sedikit, sekampung tahu, tapi bila orang kaya memperoleh untung besar, seorangpun tiada yang tahu.

Ayam berkokok harikan siang.

Sudah ternyata, tanda pasti.

Anak badak dihambat-hambat.

Dengan sengaja mencari bahaya.

Asal berisi tembolok, senang hati.

Asal cukup sandang pangan, anak hatinya senang.

Anak dipangku, kemenakan dibimbing, orang sekampung dipertenggangkan.

Anak dan kemenakan dibela dan dipimpin ke jalan yang baik.

Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.

Bila melaksanakan sesuatu pekerjaan dalam kampung dan negeri, hendaknya berendi kepada adat dan agama.

Adat lama, pusaka usang.

Adat dari dahulu kala yang tetap tiada berubah-ubah.

Air tenang, menghanyutkan.

Hal orang yang pendiam, tetapi berilmu, sebab itu janganlah dianggap enteng saja.

Air jernih ikannya jinak.

Negeri yang aman tenteram sentosa dan penduduknya ramah-ramah.

Air dicincang tiada putus.

Sanak saudara yang berbantah itu, tidak akan menjadikan perceraian.

Air beriak, tanda tak dalam.

Orang yang banyak bualnya, biasanya pembohong tiada berilmu.

Awak yang tidak pandai menari dikatakan lantai yang terjungkat.

Tak tahu mengerjakan sesuatu pekerjaan, tetapi orang-orang lainlah yang disalahkan.

Awal dikenang, akhir tidak, alamat badan akan binasa.

Pada waktu muda hendaklah mengingat bekal untuk hari tua.

Anjing menyalak tiada menggigit.

Orang yang suka menggertak-gertak tidak akan sampai mendtngkan bahaya pada orang lain.

Asam di gunung, garam di laut, berjumpa dalam belanga.

Perihal dua orang yang tiada berkenalan dan berjuhan tempat, akhirnya bertemu menjadi suami istri.

Arang habis besi binasa.

Pekerjaan yang telah banyak menghabiskan tenaga dan biaya tetapi usaha itu tidak berhasil.

(B)

Belakang parangpun jika diasah akan tajam.

Orang yang bodohpun apabila rajin dan tekun belajar pasti akan pandai.

Bayang-bayang sepanjang badan.

Pengeluaran hendaklah disesuaikan dengan pendapatan.

Bertepuk sebelah tangan tiada akan berbunyi.

Suatu perbuatan, perjanjian itu tiada akan terlaksana bila hanya datang dari ebelah pihak saja.

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Berat ringan ditanggung bersama-sama.

Bulat air di pembuluh, bulat kata dimufakat.

Setelah berunding bersama-sama akhirnya jadi sepakat.

Barangsiapa yang berkotek, dialah yang bertelur.

Siapa yang menjawab sindiran orang, maka ialah yang membuat pekerjaan yang disindirkan tersebut.

Bermain air basah bermain api hangus.

Setiap orang akan menanggung akibat perbuatannya.

Binatang tahan malu, manusia tahan kias.

Mengajar manusia itu cukup dengan sindiran atau kias saja.

Berani karena benar, takut karena salah.

Orang yang benar berani, takut tentu salah.

Besar pasak daripada tiang.

Pengeluaran lebih besar dari penghasilan.

Berjenjang naik, bertangga turun.

Sesuatu pekerjaan hendaklah dikerjaan menurut peraturannya.

Bagai air di daun talas.

Pendirian yang selalu berubah-ubah.

Bagai hujan (air) jatuh ke pasir.

Memberi kepada seseorang yang tidak ada bekasnya.

Bagai punguk rindukan bulan.

Yang tidak mungkin dapat tercapai.

Bagai Belanda minta tanah.

Permintaan yang tidak habis-habisnya, karena lob dan tamak.

Bagai mengayuh biduk hilir.

Seseorang yang sangat gembira mengerjakan sesuatu pekerjan yang sangat mudah.

Bagai mendapat durian runtuh.

Mendapat keuntungan besar yang tidak disangka sama sekali.

Bagai kucing dibaakan lidi.

Seseorang yang sangat takut, karena berbuat kesalahan.

Bagai roda pedati, sekali ke atas, sekali ke bawah.

Kehidupan manusia tidak tetap, kadang-kadang kaya, kadang-kadang jatuh miskin.

Bagai aur dengan tebing.

Orang yang bersahabat karib, bertolong-tolongan dan tak dapat dipisahkan.

Bagai kacang direbus satu.

Anak muda yang tidak memiliki sopan-santun, duduk tegak dengan gelisah.

Bagai itik pulang petang.

Sangat lambat perjalanannya.

Berjalan peliharakan kaki, berbicara peliharakan lidah.

Harus diingat bahwa langkah yang salah dan perkataan yang jelek dapat mendatangkan kesusahan.

Baik berputih tulang daripada berputih mata.

Lebih baik mati daripada menanggung malu.

Bertanam tebu di bibir.

Seseorang yang manis tutur bahasanya karena hendak melakukan sesuatu tujuan tertentu.

Bersatu teguh, bercerai runtuh.

Kita kuat kalau bersatu, tetapi lemah kalau berpecah belah.

Berguru kepalang ajar, bagi bunga kembang tak jadi.

Segala pengetahuan yang tidak sempurna dipelajari, tidak akan mendatangkan manfaat.

(C)

Cacing hendak menjadi ular.

Orang yang hida dina dan miskin, meniru kelakuan orang yang mulia lagi kaya.

Cepat kaki ringan tangan.

Cekatan dan lekas mengerjakan sesuatu pekerjaan.

(D)

Dalam laut boleh diduga, dalam hati siapa tahu.

Tidak dapat kita ukur atau kita ketahui pikiran seseorang.

Dalam dua tengah tiga, telunjuk lurus kelingking berkait.

Seorang yang tidak jujur dan dapat dipercaya.

Datang tampak muka, pergi tampak punggung.

Datang dan prgi haruslah sama baiknya, dengan cara yang sopan dan tenggang rasa.

Dimana tiada rotan, akarpun berguna.

Bila dalam suatu negeri tak ada orang yang pandai, maka orang agak cerdik sangat terpandang.

Ditepuk air didulang, terpercik muka sendiri.

Bila diceritakan keaiban sendiri atau kecelakaan keluarganya, tentulah kita juga yang akan mendapat malu.

Disangka panas sampi petang, kiranya hujan tengah hari.

Disangka akan baik terus, tiba-tiba datng malapetaka.

Darah setampuk pinang, umur setahun jagung.

Seseorang yang masih muda dan bodoh, belum berpengalaman.

Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah.

Daripada melihat sesuatu yang menyakitkan hati, lebih baik mati.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Di mana kita tinggal, hendaklah mengikuti adat-istiadatnya.

Disangka pulut, ditanak berderai.

Seperti orang pandai, ternyata orang bodoh.

(E)

Esa hilang dua terbilang.

Berbuat sesuatu dengan amat berani.

(G)

Guru makan berdiri, murid kencing berlari.

Contoh seorang guru yang jelek akan mudah dicontoh oleh muridnya, yang kemungkinan perbuatan murid tidak senonoh dan lebih berat dari kejelekan guru itu.

Garam di laut asam di gunung, bertemu dalam belanga.

Jodoh itu tidak mengindahkan bangsa, derajat dan kekayaan.

Gabak di hulu tanda akan hujan, cewang di langit tanda akan panas.

Ada tanda-tanda sesuatu yang akan terjadi, maka dari itu hendaklah kita berhati-hati.

Gajah bertengger di pelupuk mata tiada tampak, kuman di seberang lautan tampak.

Kesalahan orang yang sedikit tampak, tetapi kesalahan sendiri yang sangat besar, tiada kelihatan.

Gajah mati meninggalkan gading.

Orang besar atau orang baik kalau mati, selalu disebut juga kebaikannya.

(H)

Hidup segan mati tak mau, bagai kerakap di atas batu.

Orang yang hidupnya sangat menderita.

Hari pagi dibuang-buang, hari petang dikejar-kejar.

Akibat tak pandai membagi waktu, maka dalam melakukan suatu pekerjaan selalu tergesa-gesa.

Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang juga.

Budi uang baik tidak akan dilupakan orang.

Harimau mati meninggalkan belang.

Orang yang pandai apabila mati meninggalkan jasa.

Harimau menyembunyikan kuku.

Orang pandai berlaku seperti orang yang dungu.

Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.

Mengharapkan untung besar yang belum tentu didapat, keuntungan sedikit yang telah ditangan disia-siakan.

Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai.

Barangsiapa ingin kaya hendaklah berhemat, dan teliti menabung, barangsiapa ingin pandai hendaklah rajin belajar.

Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri (namun lebih baik di negeri sendiri).

Walaupun mulia dan senangnya di perantauan, namun lebih terasa senang dan bahagia di daerahnya sendiri.

Hilang tak tentu rimbanya.

Hilang lenyap tanpa meninggalkan bekas.

(I)

Ibarat menghela rambut dalam tepung, rambut jangan putus, tepung jangan terserak.

Putusan yang adil dan bijaksana melegakan yang kalah maupun yang menang.

Ibarat ayam gadis bertelur.

Tidak tetap dalam mengerjakan pekerjaan.

Ibarat burung dalam sangkar, mata lepas badan terkurung.

Tidak kekurangan dalam makanan dan minuman tetapi tidak bebas.

Ingat sebelum kena, hemat sebelum habis.

Sebelum terlambat, hendaklah hati-hati dalam mengeluarkan uang agar jangan mendapat kesusahan kelak.

(J)

Jika kain panjang sejengkal, jangan laut hendak diduga.

Pengetahuan yang sedikit, janganlah meniru orang pandai, supaya kita jangan dicemoohkan orang.

Jika takut dilembur pasang, jangan berumah ditepi pantai.

Bila tidak senang dengan kebisingan jangan tinggal di tempat ramai.

Jauh panggang dari api.

Pekerjaan masih lama akan selesai.

Jinak-jinak merpati.

Seorang wanita yang kelihatannya mau menurut keinginan seseorang, padahal kalau bersungguh-sungguh ia menjauh.

Jangan dibangunkan ular tidur.

Musuh yang sudah diam jangan dibangkitkan amarahnya.

(K)

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah.

Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tidak ada bandingnya dan lestari sepanjang masa, namun kadang-kadang kasih sayang anak kepada ibunya hanya sedikit.

Kalah jadi abu, menang jadi arang.

Dalam sesuatu perselisihan kalah atau menang sama saja, sebab kedua-duanya sama-sama rugi

Katak hendak menjadi lembu.

Seseorang yang hendak meniru perbuatanorang lain, yang dia sendiri tidak akan mampu.

Ke lurah sama menurun, ke bukit sama mendaki.

Anggota perkumpulan itu hendaklah seia sekata. Sama-sama susah dan sama-sama senang.

Kepala sama berbulu, pendapat berlain-lain.

Tiap-tiap orang itu mempunyai kesenangan yang berbeda-beda.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Karena kesalahan yang kecil, maka segala kebaikan yang banyak akan hilang.

(L)

Lempar batu sembunyi tangan.

Melakukan pekerjaan yang mengakibatkan keonaran kemudian berusaha menghilangkan jejak.

Atau, senang mengerjakan sesuatu, tetapi tidak mau bertanggungjawab.

Lunak gigi dari lidah.

Seseorang yang berkata manis dan merendah karena akan mempunyai tujuan permintaan.

Lidah tiada bertulang.

Amat mudah mengeluarkan celaan dan kritikan.

Lain padang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Tiap-tiap daerah berlainan adat-istiadatnya.

Licin bagai belut.

Belum pernah ditipu karena cerdik lagi waspada.

(M)

Manis bagai madu, pahit bagai empedu.

Kalau baik sangat baiknya, tetapi bila marah, sangat marahnya.

Malu-malu kucing.

Pura-pura malu.

Malu bertanya sesat di jalan.

janganlah kita malu-malu menanyakan sesuatu hal kepada orang lain agar kita tidak tersesat.

Membasuh arang di muka.

Menghapus rasa malu.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

Sudah takdir, tak dapat dihindarkan lagi.

Musuh dalam selimut.

Musuh yang berasal dari sanak saudara atau kawan sendiri.

Musuh jangan dicari-cari bertemu pantang dielakkan.

Permusuhan jangan dicari-cari, tetapi bila laan memancing-mancing juga, janganlah mundur.

Menangguk di air keruh.

Suka mencari keuntungan dalam keadaan yang kacau-balau.

Menjilat air liur.

Dahulu dicela, sekarang dipuji-puji lagi.

Masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang kerbau menguak.

Di mana kita tinggal hendaklah mengikuti adat-istiadat setempat.

Masuk di telinga kanan, keluar di telinga kiri.

Tidak menuruti nasehat yang sudah diberikan.

Mempertinggi tempat jatuh.

Mencari alasan yang bukan-bukan untuk memperberat kesalahan.

Makan hati berulam jantung.

Amat bersusah hati akibat perbuatan orang lain.

Musang berbulu ayam.

Orang jahat berlaku seperti orang baik.

Membuang garam ke laut.

Memberi bantuan uang kepada orang yang kaya raya.

Meludah ke langit tertimpa muka sendiri juga.

Melawan orang yang berkuasa atau kaya, kita akan mendapat susah.

Membangkitkan batang terpendam.

Menimbulkan kembali nama baik atau keluarga atau negara yang tercela.

Mumbang jatuh kelapa jatuh.

Maut tidak memandang umur, baik tua atau muda dapat mati.

Mencabik baju di dada.

Membuka rahasia pribadi sendiri.

Menuhuk kawan seiring, menggunting dalam lipatan.

Mencelakakan teman sendiri dengan sembunyi-sembunyi atau khianat.

Menegakkan benang basah.

Mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sulit dipertahankan.

Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

Bila menceritakan cela kaum keluarga sendiri, tentu kita sendiri yang akan mendapat malu.

(N)

Nasib seperti ayam, mengais dahulu baru makan.

Seseorang yang miskin, bekerja keras dahulu untuk mendapatkan sesuap nasi.

Nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa duri.

Sangat berduka cita.

Nasi sudah menjadi bubur, tak dapat dikedang lagi.

Kesalahan yang amat disesalkan karena tak dapat diperbaiki.

(O)

Orang makan nangka, awak kena getahnya.

Seseorang yang mendapat kesusahan dalam suatu perkara, padahal ia tidak tahu dalam urusan itu.

Obat jerih pelerai demam.

Yang sangat disayangi.

(P)

Pagar makan tanaman.

Orang yang wajib memelihara tetapi malah merusaknya.

Panas setahun dihapuskan oleh hujan sehari.

Kebaikan yang banyak, hilang seketika akibat kesalahan yang fatal.

Pikir itu pelita hati.

Sebelum mengerjakan sesuatu pekerjaan, hendaklah dipikirkan dahulu baik buruknya dan langkah-langkahnya.

Pandai berminyak air.

Pandai mempergunakan sesuatu yang kurang berharga, tetapi hasilnya sangat memuaskan.

Pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan.

Sesuatu hal yang telah dipertimbangkan masak-masak.

Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.

Supaya tidak menyesal nantinya, maka pikirlah masak-masak sebelum dikerjakan.

Pucuk dicinta ulam tiba.

Mendapat sesuatu yang diperlukan.

(R)

Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya.

Bila ingin pandai, rajin-rajinlah belajar, bila ingin kaya, hemat dan berhati-hatilah.

Rezeki elang tak kan didapat oleh musang.

Rezeki seseorang tidak akan diserobot oleh orang lain.

Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

seia sekata, susah senang sama-sama dirasakan.

Rugi menentang laba, jerih menentang boleh.

Biarlah bersusah payang, asal mendapatkan yang dicita-citakan.

Sekerat ular, sekerat belut.

Seseorang yang tak dapat dipercayai akibat pendiriannya tidak tetap.

Sekepal digunungkan, setitik dilautkan.

Pemberian seseorang walaupun sedikit hendaklah dijunjung tinggi.

Sehari selembar benang, lama-lama menjadi sehelai kain.

Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Selapik seketiduran, sebantal sekalang hulu.

Bersahabat karib.

Seperti mengadu ujung penjahit.

Perlawanan antara dua orang yang sama-sama cerdik, akibatnya tidak ada yang kalah.

Seperti duri dalam daging.

Selalu ingat perasaan yang kurang menyenangkan pikirannya.

Seperti cacing kepanasan.

Seseorang yng sangat gelisah sebab mendapat malu.

Seperti telur diujung tanduk.

Belum tetap dalam suatu pekerjaan, bila salah sedikit saja dapat diberhentikan.

Seperti abu di atas tunggul.

Seseorang yang tidak mempunyai kekuasaan dalam suatu pekerjaan, bila berbuat salah dapat diberhentikan.

Seperti air di daun talas.

Cepat hilang tak berbekas.

Seperti anak ayam kehilangan induk.

Kesatuan yang pecah-pecah karena ditinggalkanoleh pemimpinnya.

Seperti anjing dengan kucing.

Dua orang yang tak pernah akur.

Seperti pungguk rindukan bulan.

Seseorang yang merindukan sesuatu yang sulit diperolehnya.

Seperti pinang dibelah dua.

Dua orang yang mirip betul.

Seperti api dalam sekam.

Kekecewaan yang dipendam terus, lama-lama akan membahayakan.

Seperti bergantung di rambut sehelai.

Selalu cemas dan sangat tipis harapannya untuk mendapat pertolongan.

Seperti ilmu padi makin berisi, makin tunduk.

Makin tinggi ilmunya makin halus budi pekertinya.

Sepandai-pandai tupai melompat, sekali akan jatuh juga.

Sepandai-pandai orang, barang sekali tentu akan ada pekerjaan yang salah.

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.

Sekali ketahuan perbuatan yang tidak baik, seumur hidup orang tak mempercayai.

Setinggi-tinggi terbang bangau, hinggapnya ke kubangan juga.

Sejauh-jauh merantau, akhirnya besuk kembali ke kampungnya juga.

(T)

Tangan mencencang, bahu memikul.

Siapa yang membuat salah, harus menanggung akibatnya.

Tegak sama tinggi, duduk sama rendah.

Sama tinggi kedudukannya.

Tong kosong, nyaring bunyinya.

Orang yang besar omongnya itu, biasanya orang yang tidak berilmu.

Tertumpang di biduk tiris.

Sudah terlanjur mengikuti pekerjaan yang merugikan.

Telunjuk lurus, kelingking berkait.

Seseorang yang lahirnya kelihatan baik, tetapi sebenarnya jahat hatinya.

Tinggal kulit pembalut tulang.

Orang yang merana sehingga badannya kurus.

Tak ada gading yang tak retak.

Tak ada sesuatu pekerjaan yang sempurna.

Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.

Peraturan yang tak pernah berubah.

Tak air talang dipancung.

Untuk menyampaikan sesuatu maksud yang baik, tidak malu melakukan apa saja.

Tak emas bungkal di asah, tak kayu jejang dikeping.

Dikala memerlukan uang, diusahakan sedapat-dapatnya walaupun dengan jalan menjual barang, asal maksud tercapai.

Tiba diperut dikempiskan, tiba dimata dipicingkan.

Seseorang pemimpin yang tidak adil, bila keluarganya yang salah ia pura-pura tidak tahu, tetapi bila orang lain yang bersalah, terus mencelanya.

(U)

Ular berkepala dua.

Kadang-kadang memihak kawan, kadang-kadang memihak lawan.

(Y)

Yang merah saga, yang kurik kundi, yang indah bahasa, yang baik budi.

Walaupun cantik rupawan, tetapi bila tidak berbudi, tidak akan dihormati.

Yang pekak pelepas bedil, yang buta penghembus lesung, yang lumpuh penghalau ayam.

Keahlian tiap-tiap orang dapat dimanfaatkan berdasarkan keahliannya masing-masing.

(Z)

Zaman beralih, musim bertukar.

Sesuatu itu akan berubah, menurut kehendak zaman dan kodrat Tuhan.

Sumber: 1160 peribahasa indonesia

Jumat, 25 November 2011

Sholat Tasbih

Salat Tasbih merupakan salat Sunnah yang di dalamnya pelaku salat akan membaca kalimat tasbih (kalimat "Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar") sebanyak 300 kali (4 raka'at masing-masing 75 kali tasbih). Salat ini diajarkan Rasulullah SAW kepada pamannya yakni sayyidina Abbas bin Abdul Muthallib. Namun beberapa ulama berbeda pendapat tentang hal ini.

Hikmah salat adalah dapat mencegah perbuatan keji dan kemungkaran, tentu saja dari salat tasbih yang dilakukan dengan hati yang ikhlas diharapkan akan dapat pula seseorang yang melakukannya dicegah atau terjaga dari perbuata-perbuatan yang keji lagi mungkar.


Niat salat ini, sebagaimana juga salat-salat yang lain cukup diucapkan di dalam hati dan tidak perlu dilafalkan, tidak terdapat riwayat yang menyatakan keharusan untuk melafalkan niat akan tetapi yang terpenting adalah dengan niat hanya mengharapkan Ridho Allah Ta'ala semata dengan hati yang ikhlas dan khusyu.


Salat tasbih dilakukan 4 raka'at (jika dikerjakan siang maka 4 raka'at dengan sekali salam, jika malam 4 raka'at dengan dua salam ) sebagaimana salat biasa dengan tambahan bacaan tasbih pada saat-saat berikut:
No. Waktu Jml. Tasbih
1 Setelah pembacaan surat al fatihah dan surat pendek saat berdiri 15 kali
2 Setelah tasbih ruku' (Subhana rabiyyal adzim...) 10 Kali
3 Setelah I'tidal 10 Kali
4 Setelah tasbih sujud pertama (Subhana rabiyyal a'la...) 10 Kali
5 Setelah duduk di antara dua sujud 10 Kali
6 Setelah tasbih sujud kedua (Subhana rabiyyal a'la...) 10 Kali
7 Setelah duduk istirahat sebelum berdiri (atau sebelum salam tergantung pada raka'at keberapa) 10 Kali
Jumlah total satu raka'at 75
Jumlah total empat raka'at 4 X 75
= 300 kali
[sunting]Perbedaan pendapat ulama

Para ulama berbeda pendapat mengenai salat tasbih, berikut adalah beberapa pendapat mereka :


Pertama: Salat tashbih adalah mustahabbah (sunnah).
Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian ulama penganut Mazhab Syafi'i. Hadits Rasulullah SAW kepada pamannya Abbas bin Abdul Muthallib yang berbunyi:
"Wahai Abbas pamanku, Aku ingin memberikan padamu, aku benar-benar mencintaimu, aku ingin engkau melakukan -sepuluh sifat- jika engkau melakukannya Allah akan mengampuni dosamu, baik yang pertama dan terakhir, yang terdahulu dan yang baru, yang tidak sengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Sepuluh sifat adalah: Engkau melaksankan salat empat rakaat; engkau baca dalam setiap rakaat Al-Fatihah dan surat, apabila engkau selesai membacanya di rakaat pertama dan engkau masih berdiri, mka ucapkanlah: Subhanallah Walhamdulillah Walaa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar 15 kali, Kemudian ruku'lah dan bacalah do'a tersebut 10 kali ketika sedang ruku, kemudian sujudlah dan bacalah do'a tersebut 10 kali ketika sujud, kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali kemudian sujudlah dan bacalah 10 kali kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali. Itulah 75 kali dalam setiap rakaat, dan lakukanlah hal tersebut pada empat rakaat. Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu" (HR Abu Daud 2/67-68)
Ibnu Ma'in. An-Nasaiy berkata: Ia tidak apa-apa. Az-Zarkasyi berpendapat: "Hadis shahih dan bukan dhaif". Ibnu As-Sholah: "Haditsnya adalah Hasan"


Kedua: Salat tasbih boleh dilaksanakan (boleh tapi tidak disunnahkan).
Pendapat ini dikemukakan oleh ulama penganut Mazhab Hambali. Mereka berkata: "Tidak ada hadits yang tsabit (kuat) dan salat tersebut termasuk Fadhoilul A'maal, maka cukup berlandaskan hadits dhaif."
Ibnu Qudamah berkata: "Jika ada orang yang melakukannya maka hal tersebut tidak mengapa, karena salat nawafil dan Fadhoilul A'maal tidak disyaratkan harus dengan berlandaskan hadits shahih" (Al-Mughny 2/33)


Ketiga: Salat tersebut tidak disyariatkan.
Imam Nawawi dalam Al-Majmu' berkata: "Perlu diteliti kembali tentang kesunahan pelaksanaan salat tasbih karena haditsnya dhoif, dan adanya perubahan susunan salat dalam salat tasbih yang berbeda dengan salat biasa. Dan hal tersebut hendaklah tidak dilakukan kalau tidak ada hadits yang menjelaskannya. Dan hadits yang menjelaskan salat tasbih tidak kuat".
Ibnu Qudamah menukil riwayat dari Imam Ahmad bahwa tidak ada hadis shahih yang menjelaskan hal tersebut. Ibnuljauzi mengatakan bahwa hadits-hadits yang berkaitan dengan salat tasbih termasuk maudhu`. Ibnu Hajar berkata dalam At-Talkhis bahwa yang benar adalah seluruh riwayat hadits adalah dhaif meskipun hadits Ibnu Abbas mendekati syarat hasan, akan tetapi hadits itu syadz karena hanya diriwayatkan oleh satu orang rawi dan tidak ada hadits lain yang menguatkannya. Dan juga salat tasbih berbeda gerakannya dengan salat-salat yang lain.
Dalam kitab-kitab fiqih mazhab Hanafiyah dan Malikiyah tidak pernah disebutkan perihal salat tasbih ini kecuali dalam Talkhis Al-Habir dari Ibnul Arabi bahwa beliau berpendapat tidak ada hadits shahih maupun hasan yang menjelaskan tentang salat tasbih ini.


Kumpulan Salat-Salat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha Putra, Semarang, 1993

Kamis, 17 November 2011

BER"KURBAN" IDUL ADHA MENURUT TUNTUNAN RASUL

Pada dasarnya kurban adalah sunnah dari beberapa sunnah Rasulullah. Dan hukumnya Wajib bagi yang mampu dalam sabdanya: “man wajada sa’atan falam yudhahh fala yaqrabanna mushallana.( Ahmad bin Hanbal, juz 2 h. 321 dan Ibn Maajah) Barang siapa yg memiliki kemampuan tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati musalla kami
Dalam hadis lain Rasulullah bersabda: tidak ada amalan keturunan Adam yang lebih dicintai oleh Allah pada hari Idul Adha selain menyembelih kurban sesunggguhnya binatang itu akan datang pada hari kiamat nanti dengan tanduk bulu dan kukunya sesunggguhnya darah kurban lebih dahulu tercurah karena Allah sebelum ia tercurah ke bumi yang membuat jiwa merasa senang. (al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3, h. 26 Menurut al-Turmuzi hadis ini Hasan Gharib) Bahkan berkurban dilakukan oleh Rasul setiap tahun. (al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3, h. 32 Hadis Hasan)
Dalam riwayat lain, kewajiban bagi setiap keluarga di setiap tahun melakukan pemotongan hewan kurban dan ‘atirah (yaitu korban 10 hari pertama bulan rajab), akan tetapi atirah ini sdh mansukh.( Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h. 93, al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3, h. 34)
‘Atirah sudah dilakukan oleh umat sebelum Islam, lalu setelah muslim seorang sahabat bertanya tentang atirah itu kepada Rasulullah. Jawaban Rasulullah memberikan penjelasan tentang larangan atirah (Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h. 105, al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3,)
Ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan oleh umat Islam yang akan berkurban
a. Kurban harus dilakukan hanya karena Allah
Orang yang berkurban bukan karena Allah, jangankan ridha Allah, mala ia akan mendapatkan laknat Allah . Sabda Rasulullah, Bahwa Allah melaknat org yg melaknat orang tuanya, orang menyembelih kurban bukan karena Allah, dan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi serta orang yang memindahkan patok/batas kepemilikan tanah. (Muslim, Sahih Muslim, juz 3, h. 1567, dan al Nasa’I, juz 7, h. 232)

b. Jumlah hewan kurban
a) 2 ekor domba (1 untuk diri dan keluarga dan 1 untuk umat Islam yang tidak sanggup kurban) Rasulullah melakukan kurban dengan dua ekor domba yang sangat baik kualitasnya dan Rasulullah menyembelihnya sendiri (Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari., juz 3, h. 2287, 2289, 2291, Muslim, Sahih Muslim, juz 3, h. 1556-1557, al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3, h. 26-27. Kualitas hadis ini Hasan Sahih, al-Nasa’I, Sunan al-Nasa’I, juz 7, h. 219-221)
Rasul berkurban dengan 2 ekor, satu ekor untuk dirinya sendiri dan keluarganya, satu ekor untuk umatnya yang tidak sanggup berkurban. Hadis berikut: “Tadhhiyyatun Nabi ‘an nafsihi wa ‘amman lam yudhahhi min ummatihi” (Rasululah senantiasa berkurban setiap tahun dengan 2 ekor domba, satu untuk diri dan keluarganya dan satu untuk umatnya. (al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz 3, h. 31)
b) Satu ekor domba (untuk diri dan keluarga)
Dalam realitasnya, Rasul menuntunkan bahwa Berkurban Satu ekor domba untuk satu orang atas namanya dan keluarganya (al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz 3, h. 31, Hadis Hasan Sahih)
c) Atau Satu ekor sapi untuk 7 orang bersama-sama (Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h. 98, al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz 3, h. 30 Menurut al-Turmuzi hadisnya Hasan Sahih. Itu juga dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in, dan al-Nasa’I, Sunan al-Nasa’I, juz 7, h. 221-222, Malik, al-Muwata’, h. 303)

c. Waktu Kurban
1. setelah melontar jamarat, penyembelihan kurban dilakukan setelah melakukan pelontaran jamarat bagi yang melakukan ibadah haji. (Muslim, Sahih Muslim, juz 2, h. 892)
2. selesai salat ‘id, Bagi yang tidak sedang melakukan ibadah haji Penyembelihan hewan kurban dilakukan selesai salat ‘id. Dari al-Barra’ saya mendengar Rasulullah saw berkhutbah bahwa pertama kita memulai hari kita ini kita shalat id, kita kembali dan kita berkurban, siapa yang melakukan maka sesungguhnya itulah sunnah kita yang benar. (Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari., juz. 1, h. 369, h. 378, juz 3, h. 2284, Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h.96)
Berdasarkan hadis di atas, Rasul memberikan urutan kurban selesai salat, pulang dan menyembelih kurban. Penyembelihan hewan yang dilakukan sebelum shalat ‘Idil Adhha sama dengan penyembelihan biasa, dan diperintahkan oleh Rasul untuk menggantinya dengan binatang sembelihan lain. (Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari., juz. 1, h. 378. 382, juz 3, h. 2288Muslim, juz 3, h. 1551-1552, Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h.96, al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3, h. 32-33 dan al-Nasa’I, Sunan al-Nasa’I, juz 7, h. 222-224)
d. Bacaan yang dibaca Rasululllah ketika berkurban:
Ada beberapa versi do’a yang dibaca Rasul ketika menyembelih hewan kurban:
1. Berdasarkan Riwayat Muslim, Sahih Muslim, juz 3, h. 155, Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h. 94, Rasul membaca:
.... ثم قال: باسم الله اللهم تقبل من محمد و أل محمد و من أمة محمد
2. Dalam riwayat lain dalam hadis Riwayat Abu Daud (Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h. 99)
بسم الله والله اكبر هذا عنى و عمن لم يضح من أمتى
3. Dalam riwayat lain, diawali dengan do’a seperti iftitah “ inni wajjahtu ...sampai akhir baru basmallah dan takbir

e. Distribusi daging hewan kurban
1. Orang yang berkurban boleh mendapatkan maksimal 1/3 bagian sementara yang lainnya dibagikan utk orang yang berhak. (Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h.99)
Ketika banyak orang yang berkurban, maka bagian 1/3 ini dapat dimaknai dengan jumlah untuk konsumsi 10 hari .( al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3, h. 34)

2. Pemilik atau Orang yang berkurban hanya mendapat bagian sekedar konsumsi daging untuk 3 hari, tidak boleh makan daging kurban lebih dari 3 hari.i
Rasulullah melarang kami memakan daging kurban lebih dari 3 hari (Muslim, juz 3, h. 1560-1561, al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3, h. 33, dan al-Nasa’I, Sunan al-Nasa’I, juz 7, h. 232-233, Malik, al-Muwata’, h. 302)
Alasan yang diberikan oleh Rasul dapat dilihat dari riwayat lain: Rasululah bersabda Saya melarang lebih dari tiga hari agar ada pemerataan perolehan daging diantara mereka yang lemah atau tidak mampu (Muslim, juz 3, h. 1561, al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3, h.33 dan al-Nasa’I, Sunan al-Nasa’I, juz 7, h. 235-236 dan Malik, al-Muwata’, h. 302)
Dalam riwayat dari ‘Aisyah, Rasul melarang mengambil bagian daging kurban lebih dari kebutuhan 3 hari, ketika yang berkurban sedikit, sementara yang tidak berkurban jumlahnya banyak, lebih baik memberikan kurban kepada orang yang tidak berkurban (al-Turmuzi, Sunan al-Turmuzi., juz. 3, h. 34 dan badingakan dengan al-Nasa’I, Sunan al-Nasa’I, juz 7, h. 236. Dalam beberapa hadis ada penjelasan tentang “memakan daging kurban nya” ditujukan kepada yang berkurban.
3. Penerima daging kurban pun tidak boleh menerima melebihi konsumsi 3 hari, karena dalam beberapa riwayat lain tanpa kata “nya”, jika dikaitkan dengan alasan Rasul tidak membolehkan orang memakan daging kurban lebih dari 3 hari, maka bukan hanya terbatas pada orang yang berkurban tapi juga bagi yang akan menerima kurban. Tidak menumpuk pada orang tertentu. Sehingga harus ada koordinasi antara panitia kurban ttg penerima daging kurban.
Pengecualian atau rukhshah dari aturan maksimal 3 hari:
a. Ketika kondisi umat Islam banyak yang menyembelih hewan kurban
Dalam suatu riwayat, Rasul memberikan alasan boleh labih dari kebutuhan 3 hari ketika kondisi umat banyak yang kurban.( Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h. 100)

b. Bagi yang akan membutuhkan bekal di Perjalanan:
Rasul membolehkan menyimpan daging hewan kurban untuk waktu lebih dari tiga hari untuk bekal di perjalanan jauh (Muslim, juz 3, h. 1562)


f. Penyempurna ibadah kurban
Bagi yang berkurban, maka penyempurna idul adha baginya adalah dengan cara tidak memotong kuku, kumis, atau rambut, atau bulu ketiak dan alat vital kecuali setelah melakukan kurban (al-Nasa’I, Sunan al-Nasa’I, juz 7, h. 212-213)

g. Berkurban atas nama yang sudah meninggal
Hanya dilakukan ketika ada wasiat, seperti Telah dicontohkan oleh sahabat ‘Ali bin Abi Thalib, memberikan kurban 2 ekor domba, ketika ditanya, ‘Ali menjawab saya diberi wasiat oleh Rasul utk melakukan kurban atas namanya. Maka saya berkurban satu urtk Rasul. (Abu Daud, Sunan Abi Daud., juz 3, h. 94)
Ada perbedaan pendapat tentang ini, ada yang membolehkan dan ada yang tidak. Menurut ibn Mubarak : lebih baik diberikan sedekah atas namanya, bukan kurban. Tetapi jika dengan kurban, maka tidak boleh diambil sedikitpun untuk dimakan.

Dikutip dari: enizar blog

Kamis, 13 Oktober 2011

Doa Orang Tua Pada Anaknya, Adalah Doa yang Mustajab

Ini adalah pelajaran yang mesti diketahui setiap orang tua. Doa mereka sungguh ajaib jika itu ditujukan pada anak-anak mereka. Jika ortu ingin anaknya menjadi sholeh dan baik, maka doakanlah mereka karena doa ortu adalah doa yang mudah diijabahi. Namun ingat sebenarnya doa yang dimaksudkan di sini mencakup doa baik dan buruk dari orang tua pada anaknya. Jika ortu mendoakan jelek pada anaknya, maka itu pun akan terkabulkan. Sehingga ortu mesti hati-hati dalam mendoakan anak.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tidak doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797). Dalam dua hadits ini disebutkan umum, artinya mencakup doa orang tua yang berisi kebaikan atau kejelekan pada anaknya.

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.” (HR. Ibnu Majah no. 3862. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Riwayat ini menyebutkan bahwa doa baik orang tua pada anaknya termasuk doa yang mustajab.

Muhammad bin Isma’il Al Bukhari membawakan dalam kitab Al Adabul Mufrod beberapa riwayat mengenai doa orang tua. Di antara riwayat tersbeut, Abu Hurairah berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

"Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya." (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 32. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 24). Hadits ini menunjukkan bahwa doa jelek orang tua pada anaknya termasuk doa yang mustajab. Hal itu dibuktikan dalam kisah Juraij berikut ini. Kisah ini menunjukkan bahwa doa jelek ibunya pada Juraij terkabul. Kisah ini dibawakan pula oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod.

Abu Hurairah berkata, ”Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَكَلَّمَ مَوْلُوْدٌ مِنَ النَّاسِ فِي مَهْدٍ إِلاَّ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ [وَسَلَّمَ] وَصَاحِبُ جُرِيْجٍ" قِيْلَ: يَا نَبِيَّ اللهِ! وَمَا صَاحِبُ جُرَيْجٍ؟ قَالَ: "فَإِنَّ جُرَيْجًا كَانَ رَجُلاً رَاهِباً فِي صَوْمَعَةٍ لَهُ، وَكَانَ رَاعِيُ بَقَرٍ يَأْوِي إِلَى أَسْفَلِ صَوْمَعَتِهِ، وَكَانَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِ الْقَرْيَةِ تَخْتَلِفُ إِلَى الرَّاعِي، فَأَتَتْ أُمُّهُ يَوْمًٍا فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ! وَهُوَ يُصّلِّى، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ - وَهُوَ يُصَلِّي - أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ، ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ: أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ. ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَالِثَةَ فَقَالَ: أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ. فَلَمَّا لَمْ يُجِبْهَا قَالَتْ: لاَ أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَيْجُ! حَتىَّ تَنْظُرَ فِي وَجْهِ المُوْمِسَاتِ. ثُمَّ انْصَرَفَتْ فَأُتِيَ الْمَلِكُ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ وَلَدَتْ[1]. فَقَالَ: مِمَّنْ؟ قَالَتْ: مِنْ جُرَيْجٍ. قَالَ: أَصَاحِبُ الصَّوْمَعَةِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: اِهْدَمُوا صَوْمَعَتَهُ وَأْتُوْنِي بِهِ، فَضَرَبُوْا صَوْمَعَتَهُ بِالْفُئُوْسِ، حَتىَّ وَقَعَتْ. فَجَعَلُوْا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ بِحَبْلٍ؛ ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِ، فَمَرَّ بِهِ عَلَى الْمُوْمِسَاتِ، فَرَآهُنَّ فَتَبَسَّمَ، وَهُنَّ يَنْظُرْنَ إِلَيْهِ فِي النَّاسِ. فَقَالَ الْمَلِكُ: مَا تَزْعُمُ هَذِهِ؟ قَالَ: مَا تَزْعُمُ؟ قَالَ: تَزْعُمُ أَنَّ وَلَدَهَا مِنْكَ. قَالَ: أَنْتِ تَزْعَمِيْنَ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: أَيْنَ هَذَا الصَّغِيْرُ؟ قَالُوْا: هَذَا فِي حُجْرِهَا، فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ. فَقَالَ: مَنْ أَبُوْكَ؟ قَالَ: رَاعِي الْبَقَرِ. قَالَ الْمَلِكُ: أَنَجْعَلُ صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: مِنْ فِضَّةٍ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَمَا نَجْعَلُهَا؟ قَالَ: رَدُّوْهَا كَمَا كَانَتْ. قَالَ: فَمَا الَّذِي تَبَسَّمْتَ؟ قَالَ: أَمْراً عَرَفْتُهُ، أَدْرَكَتْنِى دَعْوَةُ أُمِّي، ثُمَّ أَخْبَرَهُمْ

"Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali Isa bin Maryam dan Juraij" Lalu ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah siapakah Juraij?". Beliau lalu bersabda, ”Juraij adalah seorang rahib yang berdiam diri pada rumah peribadatannya (yang terletak di dataran tinggi/gunung). Terdapat seorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya dan seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya).

(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggilnya ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij." Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?" Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya. Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?" Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau shalatku?" Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, "Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur?"[2] Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya.[3]

Wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam keadaan telah melahirkan seorang anak[4]. Raja itu bertanya kepada wanita tersebut, ”Hasil dari (hubungan dengan) siapa (anak ini)?" "Dari Juraij?", jawab wanita itu. Raja lalu bertanya lagi, "Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?" "Benar", jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari." Orang-orang lalu menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali lalu membawanya menghadap raja. Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur.[5] Ketika melihatnya Juraij tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara manusia.

Raja lalu bertanya padanya, "Siapa ini menurutmu?". Juraij balik bertanya, "Siapa yang engkau maksud?" Raja berkata, "Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu." Juraij bertanya, "Apakah engkau telah berkata begitu?" "Benar", jawab wanita itu. Juraij lalu bertanya, ”Di mana bayi itu?" Orang-orang lalu menjawab, "(Itu) di pangkuan (ibu)nya." Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu, ”Siapa ayahmu?" Bayi itu menjawab, "Ayahku si penggembala sapi."

Kontan sang raja berkata, "Apakah perlu kami bangun kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas." Juraij menjawab, "Tidak perlu". "Ataukah dari perak?" lanjut sang raja. "Jangan", jawab Juraij. "Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?", tanya sang raja. Juraij menjawab, "Bangunlah seperti semula." Raja lalu bertanya, "Mengapa engkau tersenyum?" Juraij menjawab, "(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal itu kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 33. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 25). Lihat [Bukhari: 60-Kitab Al Anbiyaa, 48-Bab ”Wadzkur fil kitabi Maryam”. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 7-8]

Maka sungguh amat bahaya jika keluar dari lisan orang tua doa jelek pada anaknya sendiri karena doa seperti itu bisa terkabul sebagaimana dapat kita lihat dalam kisah Juraij di atas. Yang terbaik, hendaklah orang tua mendoakan anaknya dalam kebaikan dan moga anaknya menjadi sholeh serta berada di jalan yang lurus. Ketika marah karena kenakalan anaknya, hendaklah amarah tersebut ditahan. Ingatlah sekali lagi bahwa di saat marah lalu keluar doa jelek dari lisan ortu, maka bisa jadi doa jelek itu terwujud.

Hendaklah orang tua mencontoh para nabi dan orang sholeh yang selalu mendoakan kebaikan pada anak keturunannya. Lihatlah contoh Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam di mana beliau berdoa,

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Lihatlah sifat ‘ibadurrahman (hamba Allah) yang berdoa,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

Moga Allah memperkenankan doa kita sebagai orang tua yang berisi kebaikan kepada anak-anak kita. Moga anak-anak kita berada dalam kebaikan dan terus berada dalam bimbingan Allah di jalan yang lurus. Jika kita sebagai anak, janganlah sampai durhaka pada orang tua. Banyak-banyaklah berbuat baik pada mereka, sehingga kita pun akan didoakan oleh bapak dan ibu kita.

Semoga sajian singkat di malam ini bermanfaat bagi pembaca setia rumaysho.com sekalian.

Wallahu waliyyut taufiq.



Panggang-Gunung Kidul, 26 Jumadal Ula 1432 H (29/04/2011)

www.rumaysho.com


[1] Maksudnya berasal dari perzinahan.

[2] Inilah doa jelek dari Ibu Juraij.

[3] Shalat yang dilakukan Juraij bukanlah shalat wajib. Sedangkan memenuhi panggilan orang tua itu wajib. Maka ini menunjukkan kelirunya Juraij yang tidak mau memenuhi panggilan ibunya karena perkara wajib tentu saja mesti didahulukan.

[4] Yaitu anak dari hasil zina.

[5] Ini menunjukkan doa jelek ibu Juraij terkabul.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam
dari Rumayso.com

Minggu, 09 Oktober 2011

Nonton F1 Di Singapore

Karena belum pernah nonton F1 dimalam hari jadi tertarik untuk nonton F1 di Singapore. Sebelumnya pernah nonton GP di Sepang KL enam tahun lalulah kira kira. tapi kayaknya pengalamannya akan berbeda.

Berangkat 23 Sept 2011 Malam langsung dari kantor dan pulang 26 Sep 2011 pagi langsung ngantor lagi.

Kami beli tiket walkabout yang hari Minggu 25 Sept aja. Sebenarnya sejak Jumat circuit sudah mulai dibuka untuk babak kualifikasi, tapi karena kami pikir kurang seru jadi beli yang Minggu aja. Harga tiket walkabout(tidak disediakan kursi, hanya berdiri dan boleh berpindah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain)kira-kira IDR1.100.000,- rate 1Sin=7000IDR.

Mulai Jumat jalanan di sekitaran marina sudah mulai banyak yang ditutup. Jadi jika kita mau pergi ke Merlion saat hari jumat atau sabtu kita harus melewati depan fullerton hotel, jalan lain ditutup.

Yang paling terkesan saat nonton F1 adalah suara brisik mobilnya. Sebenarnya lebih enak nonton di TV karena bisa mengikuti secara keseluruhan jalannya pertandingan. Tapi pengalaman mendengar langsung suara mobil F1 adalah sangat sensasional.

Hal lain enaknya nonton F1 di Sing adalah karena diselenggarakan di tengah kota. Jadi saat malam hari race dipadukan dengan keindahan kota Singapore merupakan pemandangan yang sangat eksotik.

Setelah race selesai biasanya ada pertunjukan musik berkelas international. Saat kami nonton tanggal 25Sept2011 kemaren artisnya adalah group musik Linkin park. Mulai Start maen jam 22.00-24.00 waktu Singapore. Saat nonton konser ada daerah Fan zone (paling dekat kepanggung) yang hanya dapat dimasuki oleh mereka yang punya gelang Fan Zone. Gelang ini dibagikan kepada 2000 orang pertama yang datang. Jadi jika ingin mendapat gelang ini datanglah jam 15.00 saat gate dibuka trus segera lari ke depan panggung konser di Padang stage area dan langsung antri gelang. InsyAllah jika datang jam 15.00 dan masuk dari gate 4 (gate terdekat) pasti akan mendapatkan gelang. Catatan jika antri jam 15.00 dan mau cepat, jangan bawa tas. Bawa aja hp dan dompet dalam saku sehingga bisa langung masuk tanpa melewati pemeriksaan tas dengan sensor.





Keutamaan Sholat Berjamaah

Shalat berjamaah di masjid buat seorang laki-laki lebih utama dari pada shalat berjamaah di rumahnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW berikut ini:

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم قال, “صَلاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وعِشرينَ دَرَجَةً” مُتّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR Muttafaq ‘alaihi)

وَلَهُمَا عَنْ أَبِي هُرَيْرةَ رَضيَ اللَّهُ عَنهُ “بِخَمْسٍ وَعشْرين جُزْءًا وَكَذَا لِلْبُخَاريِّ عَنْ أَبي سَعِيدٍ رَضيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ, “دَرَجَةً.”

Dan riwayat kedua namun lewat jalur Abi Hurairah ra. disebutkan, “dengan 25 bagian.” Dan dari riwayat Abi Said menurut Bukhari dengan lafadz; “derajat.”

Beberapa ulama menafsirkan hadits Rasulullah SAW tentang fadhilah shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dari shalat sendirian atau 25 bagian, dengan memberikan beberapa ketentuan, yaitu shalat berjamaah itu dilakukan di masjid di awal waktu.

Adapun shalat berjamaah di rumah, atau di masjid tapi di luar shalat berjamaah yang utama, atau shalat sendirian tapi di masjid, semuanya di luar maksud hadits di atas.

Di antara rahasia fadhilah shalat berjamaah di masjid itu adalah:

1. Sebelum berjalan ke masjid, ketika seseorang berwudhu’ di rumahnya, bukan berwudhu’ di masjid, dia telah mendapatkan pahala atas wudhu’nya.
2. Ketika dia memakai pakaian dan wewangian dengan niat karena akan masuk masjid, maka dia akan mendapat pahala tersendiri. Karena Allah SWT telah memerintahkan agar seseorang berhias setiap masuk masjid.
3. Ketika seseorang berjalan ke masjid dengan melangkahkan kaki, maka tiap langkah kakinya itu mendapatkan kebaikan tersendiri yang mendatangkan pahala.
4. Ketika masuk masjid, seseorang akan mendapat pahala bila membaca doa masuk masjid.
5. Masih ketika masuk masjid, dia juga akan mendapatkan pahala ketika melangkah dengan kaki kanannya.
6. Begitu masuk masjid, seseorang akan mendapat kesempatan mendapatkan pahala dari shalat tahiyatul masjid.
7. Kemudian ketika seseorang duduk di masjid sambil menunggu datangnya waktu shalat, dia sudah terbilang melakukan i’tikaf bila dia meniatkannya. Menurut mazhab As-syafi’iyah, i’tikaf bisa dilakukan asalkan dengan niat dan berdiam di masjid, meski hanya sesaat saja.
8. Begitu adzan berkumandang, dia juga akan mendapatkan kesempatan mendapatkan pahala tersendiri dengan mendengarkan adzan dan menjawabnya. Apalagi bila dia sendiri yang melakukan adzan.
9. Setelah mendengar adzan, dia akan mendapatkan kesempatan mendapatkan kebaikan lagi ketika membaca doa setelah adzan.
10. Selesai doa adzan, dia akan mendapatkan lagi kesempatan mendapat pahala dengan shalat sunnah qabliyah.
11. Setelah iqamat didengungkan, lalu imam mengatur barisan, dia akan mendapatkan pahala lagi bila ikut memperhatikan imam dan mengatur barisannya agar lurus dan rapat.
12. Pada saat shalat jamaah dilaksanakan, dia akan mengikuti semua gerakan imam dengan baik. Kalau imam berdiri, maka dia berdiri, kalau imam rukuk, maka dia rukuk, kalau imam sujud maka dia ikut sujud. Semua tindakannya mengikuti imam itusudah mendatangkan pahala tersendiri.
13. Ketika imam sampai pada bacaan “waladhdhaallin”, maka dia menjawab, “amiin.” Jawaban itu mendatangkan pahala tersendiri.
14. Dia juga akan mendapatkan pahala tersendiri ketika mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, dibandingkan saat shalat sendirian di rumah, atau berjamaah di rumah. Karena salam itu doa untuk orang yang di kanan dan kirinya. Dan karena di masjid jumlah jamaahnya lebih banyak, maka doa yang akan diterimanya jauh lebih banyak.
15. Selesai shalat wajib, dia akan mendapatkan pahala lagi bila membaca beberapa lafadz dzikir atau doa.
16. Kemudian kesempatan berikutnya lagi adalah ketika dia melakukan shalat sunnah ba’diyah shalat.
17. Di dalam masjid, dia tentu akan bertemu dengan banyak jamaah shalat lainnya. Ketika bertemu dan memberi salam, dia akan mendapatkan pahala tersendiri.
18. Sambil memberi salam, apabila dia juga berjabat tangan, maka dia pun akan mendapatkan pahala tersendiri.
19. Senyumnya kepada sesama saudaranya adalah sedekah. Dan ini akan menambahlagi kesempatannya untuk mendapatkan pahala.
20. Ketika hendak berpisah dengan sesama jamaah di masjid, maka dia akan mendapat pahala bila mengucapkan salam atau membalas salam.
21. Dia juga akan mendapatkan pahala bila diikuti dengan berjabat tangan ketika akan berpisah dengan sesama muslim.
22. Ketika pulang dari masjid, dia membaca doa keluar masjid. Hal itu menambah lagi pahalanya.
23. Di masjid terbuka kesempatan untuk berinfaq, maka bila dia memanfaatkan kesempatan itu, dia akan mendapatkan pahala tersendiri dari berinfaq.
24. Di dalam masjid seringkali digelar khutbah atau majelis ilmu (kultum). Bila dia mendengarkan nasehat dan penyampaian ilmu dengan niat menjalankan perintah Allah SWT dan karena menuntut ilmu itu wajib hukumnya, maka dia akan mendapatkan kebaikan tersendiri.
25. Ketika keluar, dia melangkah dengan kaki kirinya. Satu lagi tambahan pahala akan didapatnya.
26. Ketika pulang, dia mengambil jalan lain yang tidak sama dengan jalan yang dilewati saat pergi ke masjid. Ini adalah sunnah Rasulullah SAW yang tentu mendatangkan pahala tersendiri.
27. Setiap langkah kaki saat pulang dari masjid, maka dia akan mendapatkan pahala lain tersendiri.

Butir-buitr kesempatan memetik pahala di atas bukan didapat dari nash yang sharih dan menyatu, melainkan dari berbagai dalil yang berserak-serak, kemudian dikumpulkan. Tentu saja jumlahnya tidak hanya 27 bagian saja, pasti akan ada lebih banyak lagi.

Namun uraian di atas hanya sekedar memberikan contoh salah satu versi ijtihad para ulama ketika menguraikan rahasia mengapa shalat berjamaah di masjid lebih utama dari shalat yang lainnya.

Tentu saja tidak semua orang yang shalat di masjid berjamaah akan mendapatkan semua kesempatan itu. Sebab tidak semuanya melakukan hal-hal di atas.

Tapi intinya kami ingin memberikan pemaparan bahwa di balik keutaman shalat berjamaah di masjid itu, memang ada alasan-alasan logis yang bisa ditarik sebagai landasan.

Paling tidak, hal-hal di atas akan memberikan alasan mengapa shalat berjamaah di masjid lebih utama untuk dikerjakan.

Wallahu a’lam bishshawab

Dikutip dari Komunitas DUDUNG.net